Perbedaan Dropship dan Reseller Calon Pebisnis Wajib Tahu! 

Perbedaan Dropship dan Reseller

Pandemi virus Covid-19 yang sudah menyerang dunia selama hampir 2 tahun ini telah berdampak banyak pada seluruh aspek kehidupan masyarakat. Namun, dampak perekonomian merupakan salah satu yang paling parah dialami oleh banyak orang. Banyak perusahaan dari berbagai sektor melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal, yang berakibat pada angka pengangguran di Indonesia yang meningkat drastis.

Dengan terus bertambahnya pengangguran akibat PHK, banyak orang yang akhirnya beralih dari melakukan pekerjaan kantoran menjadi pebisnis, terutama pebisnis online. Kegiatan bisnis online memang sudah sejak lama dilakukan oleh banyak orang, omset yang dihasilkan pun bisa sangat menguntungkan dibandingkan dengan bisnis konvensional biasanya. Apalagi di tengah pandemi seperti sekarang ini, bisnis online pun jadi salah satu jawaban atas keputusasaan para pengangguran yang tetap membutuhkan pemasukan untuk membiayai hidup sehari-hari.

Daftar Reseller Gratis Klik Disini

Bisnis online sendiri ada banyak sekali macamnya, karena semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak pula jenis bisnis online yang bermunculan. Kemudahan yang ditawarkan oleh bisnis online pun membuat banyak orang tergiur. Bisnis online tidak memerlukan toko, karena semua proses jual beli dilakukan secara online melalui internet. Jadi, pebisnis pun tidak perlu mengeluarkan banyak modal untuk bisa mulai berjualan.

Selain itu, keuntungan lain yang bisa diperoleh dari bisnis online adalah kemudahan transaksi yang dimiliki. Pembeli bisa dengan mudah membeli barang yang mereka inginkan melalui internet, serta mengirimkan uang kepada penjual melalui transfer bank atau metode pembayaran online lainnya. Jadi, meskipun penjual dan pembeli berada pada jarak yang jauh, mereka tetap bisa bertransaksi dengan mudah. Walaupun jarak yang membatasi adalah lintas negara.

Salah satu bisnis online yang paling diminati di masa pandemi seperti sekarang ini adalah bisnis reseller dan dropship. Kedua bisnis ini menjadi primadona karena berbagai keunggulan yang berbeda dari jenis bisnis online lainnya. Meskipun seringkali disandingkan, kedua bisnis ini merupakan jenis bisnis yang berbeda. Salah satu alasannya adalah karena kedua bisnis ini sama-sama menjual produk milik orang lain, tetapi mereka tetap memiliki perbedaan yang jelas dan mendasar. Sebelum membahas perbedaan dropship dan reseller, akan lebih baik jika mengetahui pengertian mengenai kedua jenis bisnis ini. Memang apa sih bisnis reseller dan dropship itu?

Baca Juga:  Apa Itu Reseller? Apa Saja Keuntungannya? Simak Penjelasannya Disini

Bisnis Reseller merupakan bisnis yang dilakukan dengan menjual kembali barang yang sudah dibeli dari supplier. Seorang reseller biasanya akan membeli sebuah produk dalam jumlah tertentu dengan harga yang ditentukan oleh supplier, lalu kemudian dijual kembali dengan harga yang bisa mereka tentukan sendiri. Selisih harga tersebut kemudian menjadi keuntungan yang didapatkan oleh reseller. Keuntungan ini tentunya bisa menjadi sangat besar jika reseller menentukan harga jual yang jauh lebih tinggi daripada harga beli dari supplier.

Sedangkan Bisnis Dropship merupakan bisnis yang dilakukan tanpa perlu memiliki produk atau stok barang yang akan dijual. Jadi, bisa dibilang dropshipper hanya menjadi pihak ketiga yang menjual informasi dari suatu produk, sedangkan produknya sendiri akan dikirimkan langsung oleh supplier kepada pembeli. Sehingga dalam pelaksanaannya, dropship berfungsi lebih seperti perantara. Harga jual yang ditawarkan oleh dropshipper pun tidak bsia ditentukan sendiri, melainkan harus mengikuti ketentuan dari pihak supplier atau pemilik produk. Oleh karena itu keuntungan yang dihasilkan oleh dropshipper pun tidak sebesar keuntungan yang bisa diperoleh oleh seorang reseller.

 

Dengan adanya perbedaan mendasar dari kedua jenis bisnis ini, cara kerjanya pun tentu saja berbeda. Simak cara kerja bisnis reseller dan dropship di bawah ini:

Cara kerja bisnis reseller

1. Menentukan produk dan mencari supplier

Reseller menentukan jenis produk yang akan dijual, dan mencari supplier yang menjual produk yang diinginkan dengan harga serendah mungkin tetapi memiliki kualitas yang tinggi dan bersaing.

2. Melakukan stok barang

Setelah menemukan supplier yang cocok, reseller akan membeli produk tersebut dalam jumlah yang banyak agar Ia memiliki stok yang cukup untuk dijual. Pada tahap ini, reseller harus memiliki modal yang cukup besar tergantung dengan jenis serta jumlah produk yang akan di stok.

Baca Juga:  Cara Daftar Dropship Gratis Tanpa Stok Barang 2021

3. Menentukan harga jual barang

Jika sudah melakukan stok barang, reseller akan menentukan harga jual yang akan Ia tawarkan kepada calon pembeli. Keuntungan yang akan didapatkan reseller bisa ditentukan pada tahap ini. Jika reseller menentukan harga jual yang tinggi dan jauh dari harga beli dari supplier, maka Ia akan mendapatkan keuntungan yang tinggi pula. Namun jika reseller menentukan harga jual tidak jauh dari harga beli, keuntungan yang didapatkan pun tidak akan seberapa, tetapi akan lebih berpotensi untuk dilirik oleh calon pembeli.

4. Memasarkan barang

Pada tahap ini, reseller sudah mulai melakukan proses jualan. Biasanya, reseller akan menjual barang dagangannya di marketplace-marketplace yang sudah dikenal oleh banyak orang, atau melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan juga WhatsApp.

5. Memproses orderan

Jika sudah ada pembeli yang tertarik dengan produk yang dijual, reseller pun bisa langsung memproses orderan dari dipesan oleh pembeli. Pada tahap ini, reseller harus cermat dalam melakukan packing dan juga pengiriman. Dengan melakukan packing yang rapi dan aman, maka akan menimbulkan kepercayaan dari pembeli terhadap toko atau bisnis online yang dimiliki oleh reseller.

Cara kerja bisnis dropship

1. Mencari supplier barang

Tahap pertama dalam proses bisnis dropship adalah mencari supplier barang atau produk yang akan dijual. Namun, dalam pencarian supplier ini, dropshipper harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  • Pihak supplier mau dan bisa melayani order dropship. Karena tidak semua supplier bisa menerima order dropship, maka hal ini harus dipastikan terlebih dahulu.
  • Harga produk yang diberikan oleh supplier murah dan bisa bersaing dengan harga pasar. Pada tahap ini juga perlu diperhatikan harga jual yang ditetapkan oleh supplier; apakah komisi yang diberikan sudah sesuai dengan yang diinginkan oleh dropshipper.
  • Supplier menyediakan gambar dan informasi produk dengan lengkap. Kedua hal ini diperlukan karena nantinya, dropshipper tidak memiliki produk dan hanya akan membagikan foto serta keterangan produk ketika berjualan.
Baca Juga:  Cara Mencari Reseller Produk Terpercaya di Indonesia

2. Memasarkan barang

Setelah semua proses pencarian supplier selesai, dropshipper bisa langsung memasarkan barang atau produk yang akan dijual di marketplace ataupun di media sosial.

3. Memproses orderan

Jika sudah ada orderan yang masuk, dropshipper akan memproses orderan tersebut kepada supplier, agar produk bisa dikirimkan langsung oleh supplier, kepada pembeli. Pada tahap ini, dropshipper harus memastikan bahwa data pembeli yang diteruskan pada supplier sudah jelas dan lengkap. Agar tidak terjadi kesalahan saat dilakukan pengiriman oleh pihak supplier.

Bagaimana? Sudah mengerti cara kerja kedua jenis bisnis ini? Selain cara kerjanya yang berbeda, ada perbedaan-perbedaan lainnya yang dimiliki oleh reseller dan dropship. Apa saja perbedaan dropship dan reseller? Simak di bawah ini.

Perbedaan dropship dan reseller

1. Modal

Hal mendasar yang paling diperhatikan oleh orang yang akan memulai bisnis adalah modal. Pada jenis bisnis dropship, seorang dropshipper tidak perlu mengeluarkan modal sama sekali untuk mulai berjualan. Modal yang dikeluaran hanya untuk keperluan operasional, seperti menyediakan pulsa serta paket data untuk mengakses internet, karena seluruh proses bisnis dilakukan secara online.

Sedangkan pada jenis bisnis reseller, diperlukan modal yang terkadang bisa cukup besar, tergantung dengan jenis barang. Besarnya modal usaha yang dimiliki oleh reseller pun bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan jumlah barang yang akan di stok. Jika modal yang dimiliki kecil, maka stok barang yang akan dimiliki pun akan sedikit, dan jika reseller memiliki modal yang besar, Ia bisa menyetok barang dengan jumlah yang besar.

2. Risiko

Setiap bisnis pasti memiliki risikonya tersendiri, begitu juga dengan bisnis reseller dan dropship. Keduanya memiliki konsekuensi yang harus ditanggung oleh pelaku masing-masing. Bagi seorang dropshipper yang mengandalkan stok produk dari supplier, kekosongan produk pada supplier pun akan berdampak pada pemasukan. Jika pembeli dan orderan ada, namun barang tidak ada, maka dropshipper pun harus menolak pesanan tersebut. Jika sudah begini, dropshipper harus mencari cara lain untuk tetap bisa berjualan, seperti mencari jenis produk lain dari supplier baru yang bisa menggantikan kekosongan pemasukan. Meskipun begitu, jika dilihat dari jumlah kerugian, bisnis dropship memang memiliki risiko yang jauh lebih kecil daripada bisnis reseller.

Untuk jenis bisnis reseller, sudah jelas bahwa risiko yang harus ditanggung berkaitan dengan stok barang. Reseller bisa mengalami kerugian yang besar jika ternyata penjualan yang dilakukan tidak mencapai target atau barang yang sudah distok tidak berhasil laku di pasaran. Jika hal ini sudah terjadi, maka reseller pun mau tidak mau harus menjual kembali barang yang tidak laku tersebut dengan harga yang jauh di bawah pasaran agar cepat terjual. Walaupun hasilnya tidak seberapa, setidaknya bisa menutup kerugian yang dihasilkan.

3. Stok barang

Seperti yang sudah banyak disebutkan sebelumnya, stok barang merupakan salah satu perbedaan mendasar yang menjadi pembeda antara bisnis reseller dan dropship. Bisnis reseller memerlukan stok barang untuk bisa melakukan penjualan. Reseller bisa membeli barang dengan sistem grosiran agar harga yang didapatkan bisa lebih murah. Biasanya, reseller akan memilih barang dengan harga beli yang rendah untuk kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi.

Sedangkan pada bisnis dropship, para pelaku usahanya tidak perlu melakukan stok barang, karena barang akan langsung dikirimkan oleh supplier kepada masing-masing pembeli. Jadi, dropshipper pun hanya fokus pada pemasaran produknya.

4. Strategi Pemasaran

Pada jenis bisnis reseller, para reseller bisa menawarkan produk yang Ia jual kepada calon pembeli secara langsung karena Ia sudah memiliki barangnya. Reseller pun bisa menyediakan foto asli atau mengambil video produk secara langsung untuk lebih meyakinkan calon pembeli atas kualitas produk yang dijual. Hal ini tentunya akan menguntungkan kedua belah pihak baik reseller selaku penjual maupun pembeli karena dengan adanya foto dan video produk asli, akan memunculkan kepercayaan yang nantinya bisa membuat pembeli kembali melakukan pemesanan atau repeat order.

Untuk jenis bisnis dropshipper, hanya bisa melakukan pemasaran atau penawaran produk dengan mengandalkan foto serta keterangan dari pihak supplier terkait, di media sosial serta marketplace. Dropshipper tidak bisa melihat langsung keadaan produk jika calon pembeli menanyakannya, karena produk hanya akan langsung dikirimkan kepada pembeli dari Gudang atau toko supplier. Saat berjualan pun, dropshipper harus selalu memperhatikan stok barang yang ada pada supplier. Jadi, jika barang habis dropshipper bisa menginformasikannya kepada calon pembeli.

5. Keuntungan

Jika melihat perbedaan dari sisi keuntungan, tentu saja bisnis reseller bisa memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan dropship. Bisnis reseller mengandalkan selisih harga antara harga beli dari supplier dengan harga jual yang bisa mereka tetapkan sendiri. Karena para reseller biasa menyetok barang dengan jumlah yang banyak, maka Ia akan mendapatkan harga beli dari supplier yang jauh lebih murah, lalu Ia pun akan menaikkan harga jual agar bisa mendapatkan keuntungan yang besar.

Baca Juga:  Apa itu Reseller Evermos? Apa saja keuntungan bergabung reseller evermos?

Berbeda dengan bisnis reseller, para dropshipper tidak bisa menentukan sendiri harga jual produk yang mereka jual, karena hal tersebut sudah menjadi ketentuan mutlak yang dibuat oleh supplier. Jadi, keuntungannya pun tidak seberapa. Namun, dropshipper bisa mendapatkan keuntungan yang cukup besar jika Ia pintar dalam memilih supplier. Maka dari itu, pada proses pencarian supplier, dropshipper harus memiliki mata yang jeli dalam membandingkan tiap supplier yang nantinya akan dipilih.

6. Pengiriman

Dalam hal pengiriman, dropshipper memang memiliki keunggulan, karena seorang dropshipper tidak perlu memusingkan packing atau pengemasan barang serta pengiriman ke pembeli. Dropshipper hanya fokus memasarkan produk saja, karena packing dan pengiriman sudah dilakukan oleh pihak supplier.

Sedangkan pada bisnis reseller, mereka harus melakukan packing barang dan pengiriman sendiri, karena barang ada di tangan mereka. Pada proses ini, reseller harus selalu memperhatikan proses pengemasan agar barang yang akan dikirimkan bisa dengan selamat sampai ke tangan pembeli dengan aman. Memilih pembungkus atau kotak yang tepat serta pengaman seperti bubble wrap adalah cara yang penting untuk dilakukan Ketika melakukan pengemasan. Selain itu, reseller juga harus memperhatikan data serta alamat pembeli agar barang bisa sampai dengan tepat ke tujuan.

7. Tingkat kesulitan bagi pemula

Untuk orang awam yang memiliki ilmu dan pengetahuan nol soal bisnis, bisnis dropship merupakan pilihan yang tepat untuk memulainya. Sistem dropship yang sangat mudah bisa menjadi awalan bagi seorang pemula untuk terjun ke dunia bisnis. Tidak perlu memusingkan banyak hal, hanya perlu kejelian dalam memilih supplier yang menawarkan komisi penjualan yang menguntungkan.

Bagaimana dengan bisnis reseller? Bisnis reseller bisa terbilang cukup sulit untuk pemula. Karena menjadi seorang reseller haru mengelola sendiri barang dagangan yang mereka jual. Mereka harus memikirkan penyimpanan barang, quality control dari barang yang akan dijual, pengemasan barang, juga pengiriman barang yang semuanya harus dilakukan oleh reseller sendiri.

8. Keleluasaan dalam berjualan

Bagi orang yang ingin melakukan berbisnis hanya sebagai sampingan, bisnis dropship merupakan pilihan yang tepat untuk dilakukan. Bisnis dropshipper tidak menyita waktu yang banyak karena fokus bisnis yang dilakukan hanya pada pemasaran dan penjualan. Untuk orang yang memiliki waktu terbatas seperti mahasiswa, pekerja kantoran, maupun ibu rumah tangga, bisnis dropshipper sangat cocok untuk mereka. Bisnis ini bisa dilakukan kapan saja dan dari mana saja, juga bisa dilakukan di sela-sela waktu luang.

Sedangkan pada bisnis reseller, membutuhkan dedikasi waktu yang cukup besar. Karena seorang reseller harus terus memantau seluruh proses penjualan serta pemeliharaan barang. Dimulai dari proses pembelian dari supplier, penyimpanan barang di Gudang, pemasaran, komunikasi dengan calon pembeli, pengemasan barang, hingga pengiriman barang yang semuanya harus dilakukan sendiri. Oleh karena itu, bisnis reseller hanya cocok bagi orang yang memang memiliki banyak waktu luang, sudah memiliki modal yang besar untuk melakukan bisnis, dan juga sudah mengerti segala risiko dari bisnis ini.

9. Proses belajar

Jika membicarakan soal proses belajar, bisnis reseller tentu menjadi bisnis yang bisa paling banyak memberikan pengetahuan dibandingkan dengan bisnis dropship. Jenis bisnis reseller merupakan bisnis yang cocok dilakukan oleh orang yang memiliki niat untuk belajar dan terjun langsung dalam berbisnis. Melalui bisnis reseller, orang bisa mengetahui seluk beluk bisnis, sebelum memulai brandnya sendiri. Di bisnis reseller, seseorang akan belajar mengenai manajemen manusia, manajemen produk, hingga manajemen keuangan serta penjualan.

 Daftar Reseller Gratis Klik Disini

Nah, delapan poin di atas sudah merangkum semua perbedaan antara bisnis reseller dan juga bisnis dropship. Sudah memutuskan mau memilih bisnis apa? Jika sudah, sebaiknya kamu perlu memperhatikan beberapa hal sebelum benar-benar terjun untuk mulai berbisnis reseller ataupun dropship. Yuk, simak tips-tips berikut ini dulu ya agar bisnis bisa berjalan dengan lancar.

Tips memulai bisnis dropship dan reseller

1. Jual produk yang disukai

Untuk bisa dengan mudah menjual suatu produk, kita harus terlebih dahulu menyukainya. Memilih produk yang disukai menjadi salah satu cara agar bisa terus memiliki motivasi untuk berjualan. Selain itu, dengan berjualan produk yang disukai, kita pun bisa dengan lebih mudah meyakinkan calon pembeli untuk membeli produk kita. Apalagi jika kita sudah pernah mencoba produk yang dijual, kita pun bisa membagikan pengalaman memakai produk tersebut kepada pembeli, sehingga calon pembeli pun akan lebih percaya dan yakin untuk membeli produk tersebut.

2. Pahami produk yang dijual

Mau jualan tapi tidak paham tentang barang yang dijual adalah salah satu kesalahan terbesar yang bisa dilakukan oleh pebisnis. Setiap pebisnis harus paham seluk beluk produk yang akan dijualnya. Baik itu reseller maupun dropshipper, semua harus mengerti betul setiap produk yang ada di tokonya, sehingga jika ada calon pembeli yang bertanya, kita pun bisa menjawabnya dengan baik dan detail. Penjelasan yang detail dari penjual pun akan meyakinkan calon pembeli untuk segera memesan produk yang dijual.

3. Buat foto produk semenarik mungkin

Untuk menarik calon pembeli, kita diharuskan untuk membuat produk terlihat semenarik mungkin. Salah satu caranya adalah dengan membuat foto produk yang menarik. Bagi reseller yang bisa memegang langsung produk yang dijual, melakukan photoshoot produk bisa jadi pilihan yang sangat baik.

Sedangkan bagi dropshipper yang hanya memiliki informasi foto produk dari supplier, kita bisa mengedit foto dengan menggunakan aplikasi edit foto gratis yang sudah banyak tersedia di internet. Kita juga bisa menambahkan detail harga serta promo pada foto produk yang dibuat.

4. Cari supplier yang responsif dan terpercaya

Memiliki supplier yang responsif yang bisa dipercaya dengan baik adalah hal terpenting yang perlu diperhatikan oleh calon pebisnis online. Kita bisa melihat apakah supplier itu cepat tanggap, jujur dalam memberitahukan informasi produk, dan sudah dipercaya oleh banyak orang. Sebab dalam pelaksanaan bisnisnya, kita akan sangat bergantung pada supplier.

Baca Juga:  Website Reseller Terpercaya, Daftar Gratis Tanpa Stok Barang

Bagi seorang reseller, supplier yang dapat dipercaya sangat penting karena dari sana lah Ia akan memasok barang. Sedangkan bagi seorang dropshipper, karena seluruh proses packing dan pengiriman dilakukan oleh supplier, kita harus memperhatikan dengan detail cara mereka memperlakukan barang dagangannya. Sehingga Ketika sampai di tangan pembeli, pembeli pun akan puas dan tidak akan kecewa dengan pelayanan yang diberikan. Supplier yang cepat tanggap dalam menjawab pertanyaan juga akan sangat dibutuhkan oleh seorang dropshipper, karena seluruh informasi terkait barang hanya bisa didapatkan dari supplier.

5. Membuat kesepakatan yang menguntungkan dengan supplier

Ketika mencari supplier, kita harus memperhatikan penawaran yang ditawarkan oleh masing-masing supplier. Pastikan penawaran yang diambil bisa menguntungkan dan tidak merugikan kita sebagai reseller ataupun dropshipper. Karena masing-masing memiliki syarat dan ketentuan tersendiri, akan lebih baik jika kita bisa membandingkan beberapa supplier sekaligus dan kemudian pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan.

6. Bangun komunikasi yang baik dengan supplier

Jika sudah berhasil memilih supplier yang terbaik, maka setelah itu kita harus membangun hubungan serta komunikasi yang baik dengan supplier. Komunikasi yang baik dengan supplier akan membantu kita dalam setiap pemesanan baik oleh reseller maupun dropshipper. Jangan sampai ada konflik yang terjadi, dan jika pun ada, harus diselesaikan dengan baik oleh kedua pihak. Jika komunikasi ini terus berjalan dengan lancar, bisnis yang dijalankan pun bisa memiliki peluang bertahan lebih lama. 

7. Fokus pada marketing

Strategi marketing atau pemasaran produk yang baik menjadi hal yang sangat dibutuhkan agar produk bisa terjual dengan mudah. Kita bisa mulai memikirkan dengan matang nama toko yang diinginkan, logo, platform penjualan yang akan dipakai, serta foto produk yang akan ditampilkan. Pastikan semua aspek tersebut sesuai dengan target market yang kita pilih. Selanjutnya, kita pun bisa memakai berbagai fitur yang disediakan oleh media sosial maupun marketplace untuk mengoptimalisasi strategi marketing yang sudah dibuat.

8. Buat promo menarik

Salah satu hal yang menarik pembeli untuk melirik produk yang kita jual adalah adanya promo pada produk. Sesekali, berikanlah promo atau diskon produk agar banyak konsumen memilih dan ingat dengan toko kita. Walaupun pada awalnya tidak akan memberikan banyak keuntungan, promo bisa membuat konsumen berlangganan di toko kita dan menantikan promo-promo lainnya.

9. Berikan pelayanan terbaik untuk calon pembeli

Untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari konsumen, tentu kita harus membangun komunikasi yang baik serta pelayanan yang maksimal. Seringkali calon pembeli melontarkan banyak pertanyaan mengenai produk, di sinilah kita harus sabar menjawab segala pertanyaan dengan gaya bicara yang terkesan akrab dan ramah. Kita juga harus sebisa mungkin membalas pesan dengan cepat. Saat menanggapi komplain pun, kita harus menanggapinya dengan sebaik mungkin.

10. Monitor Kompetitor

Pesaing atau kompetitor pasti akan selalu ada pada setiap bisnis. Agar produk yang kita jual bisa selalu unggul di pasaran, kita harus memonitor para pesaing kita secara berkala; perhatikan bagaimana mereka memasarkan produknya, apa saja promo yang mereka tawarkan, serta bagaimana pendekatan dengan konsumen yang mereka lakukan. Dengan memperhatikan segala aspek penjualan yang dilakukan oleh pesaing, kita pun bisa menentukan langkah yang akan diambil agar produk kita bisa terus bersaing.

11. Konsisten

Permasalahan yang sering dialami oleh pebisnis pemula adalah kurangnya konsistensi dalam berjualan. Tak jarang, bisnis yang kita jalankan mengalami sedikit kemunduran, atau sepi pembeli. Namun, jangan sampai hal tersebut menurunkan semangat kita untuk berjualan. Agar semangat dalam berjualan bisa tetap terpupuk, kita bisa melakukan sharing dengan sesama pebisnis, atau mengikuti berbagai seminar dan workshop bisnis untuk update pengetahuan yang nantinya bisa menjadi bekal dalam mengembangkan bisnis.

Itulah penjelasan lengkap mengenai perbedaan reseller dan dropship, serta tips bagi pemula yang ingin memulai bisnis reseller maupun dropship. Sebelum menentukan akan memilih jenis bisnis yang mana, pastikan untuk memperhatikan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing, ya! Jangan lupa juga harus menyesuaikan dengan kemampuan yang kamu miliki. Jangan sampai bisnis yang dipilih justru merugikan diri sendiri.

Nah, bagi kamu yang sudah mantap mau terjun ke dunia bisnis dropship dan reseller, bisa banget coba jadi reseller Evermos terlebih dahulu. Bisa pilih ribuan produk dari brand dan UMKM asli Indonesia juga. Yuk, gabung jadi Reseller Evermos Selamat mencoba!

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

On Key

Related Posts