Reseller atau Dropshipper, Lebih Untung Yang Mana?

Reseller Atau Dropshipper

Reseller atau dropshipper? Serupa tapi tidak sama, kedua model bisnis ini masih banyak yang belum paham, lho.

Beberapa tahun belakangan ini, banyak sekali jenis bisnis online yang menjamur di kalangan masyarakat Indonesia.

Apalagi setelah pandemi melanda, dengan terbatasnya lapangan kerja, banyak orang yang akhirnya beralih membuka bisnis online.

Salah satunya ada bisnis reseller atau dropshipper.

Banyak orang keliru, bisnis reseller dan dropshipper merupakan dua bisnis yang berbeda.

Bisnis Reseller merupakan bisnis yang dilakukan dengan menjual kembali barang yang sudah dibeli dari supplier.

Seorang reseller biasanya akan membeli sebuah produk dalam jumlah tertentu dengan harga yang ditentukan oleh supplier, lalu kemudian dijual kembali dengan harga yang bisa mereka tentukan sendiri.

Sedangkan bisnis dropship merupakan bisnis yang dilakukan tanpa perlu memiliki produk atau stok barang yang akan dijual.

Jadi, bisa dibilang dropshipper hanya menjadi pihak ketiga yang menjual informasi dari suatu produk, sedangkan produknya sendiri akan dikirimkan langsung oleh supplier kepada pembeli.

Lalu, apa saja sih hal-hal yang menjadi perbedaan dropship dan reseller? Simak di bawah ini.

Perbedaan Reseller dan Dropship

1. Modal

Hal paling mendasar yang seringkali menjadi patokan bagi orang yang ingin memulai bisnis adalah modal.

Pada bisnis reseller, pebisnis terkadang membutuhkan modal yang cukup besar untuk keperluan stock barang.

Namun, besarnya modal bisa dipengaruhi oleh jenis dan banyaknya barang yang dipesan.

Sedangkan pada bisni dropship, kita tidak perlu mengeluarkan modal sama sekali untuk bisa mulai berjualan.

Modal yang dikeluarkan oleh pebisnis dropshipper Biasanya hanya untuk keperluan operasional, seperti membeli pulsa dan paket internet karena seluruh proses bisnis dilakukan secara online.

2. Risiko

Baik bisnis dropship maupun reseller, keduanya pasti memiliki risikonya masing-masing.

Pada bisnis reseller, risiko yang dapat terjadi pasti berkaitan dengan stok barang.

Risiko kerugian yang besar dapat terjadi Ketika barang yang dijual ternyata kurang laku di pasaran atau tidak mencapai target penjualan.

Untuk jenis bisnis dropship, risiko kerugian ada ketika produk pada supplier mengalami kekosongan atau habis.

Jika sudah begini, kita harus pintar-pintar cari cara hal tersebut tidak berdampak pada pemasukan, salah satunya dalah dengan mencari supplier lain yang memiliki jenis produk yang sama agar bisnis kita bisa terus berjalan.

3. Stok barang

Adanya stok barang merupakan perbedaan mendasar antara bisnis reseller dan dropship.

Pebisnis reseller perlu membeli dan menyetok barang terlebih dahulu untuk bisa berjualan.

Reseller bisa membeli barang dengan sistem grosiran agar harga yang didapatkan bisa lebih murah.

Lalu pada bisnis dropship, kita tidak perlu menyetok barang terlebih dahulu ketika akan berjualan, karena barang akan dikimkan langsung oleh supplier atau brand kepada pembeli.

Jadi pebisnis dropship bisa fokus pada promosi produknya saja.

4. Strategi Pemasaran

Pada jenis bisnis reseller, para reseller bisa menawarkan produk yang Ia jual kepada calon pembeli secara langsung karena Ia sudah memiliki barangnya.

Reseller pun bisa menyediakan foto asli atau mengambil video produk secara langsung untuk lebih meyakinkan calon pembeli atas kualitas produk yang dijual.

Dengan adanya foto dan video produk asli, akan memunculkan kepercayaan pada pembeli.

Untuk jenis bisnis dropshipper, hanya bisa mengandalkan foto serta keterangan dari pihak supplier terkait untuk berjualan.

Dropshipper tidak bisa melihat langsung keadaan produk jika calon pembeli menanyakannya, karena produk hanya akan langsung dikirimkan kepada pembeli dari Gudang atau toko supplier.

5. Keuntungan

Bisnis reseller bisa memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan dropship.

Para pebisnis reseller bisa menentukan harga jual sendiri, sehingga keuntungan pun bisa lebih besar.

Berbeda dengan bisnis reseller, para dropshipper tidak bisa menentukan sendiri harga jual produk yang mereka jual, karena hal tersebut sudah menjadi ketentuan mutlak yang dibuat oleh supplier.

Jadi, keuntungannya pun tidak seberapa.

6. Pengiriman

Dalam hal pengiriman, bisnis dropship lebih unggul daripada bisnis reseller.

Seorang dropshipper tidak perlu melakukan packing juga pengiriman barang kepada pembeli, karena kedua hal itu sudah ditanggung oleh pihak supplier.

Sedangkan pada reseller, mereka harus melakukan packing dan pengiriman secara mandiri, karena barang da di tangan mereka.

Reseller pun harus memastikan bahwa barang sudah aman terpacking dan dikirim pada alamat yang benar.

7. Tingkat kesulitan bagi pemula

Untuk orang awam yang memiliki ilmu dan pengetahuan nol soal bisnis, bisnis dropship merupakan pilihan yang tepat untuk memulainya.

Sistem dropship yang sangat mudah bisa menjadi awalan bagi seorang pemula untuk terjun ke dunia bisnis.

Bagaimana dengan bisnis reseller? Bisnis reseller bisa terbilang cukup sulit untuk pemula.

Karena menjadi seorang reseller haru mengelola sendiri barang dagangan yang mereka jual.

Mereka harus memikirkan penyimpanan barang, quality control dari barang yang akan dijual, pengemasan barang, juga pengiriman barang yang semuanya harus dilakukan oleh reseller sendiri.

8. Proses belajar

Bisnis reseller merupakan bisnis yang paling banyak memberikan pengetahuan dibandingkan dengan bisnis dropship.

Mengapa begitu? Melalui bisnis reseller, kita bisa memahami seluk beluk bisnis sebelum kita memulai brand kita sendiri.

Melalui bisnis reseller, kita akan belajar tentang manajemen manusia, manajemen produk, hingga manajemen keuangan dan penjualan.

Jadi, bisnis reseller cocok sekali dipilih bagi yang memiliki niatan belajar yang tinggi juga benar-benar berambisi untuk menjadi pebisnis yang sukses.

Setelah mengetahui perbedaan antara bisnis reseller dan dropship, pasti ingin tahu juga dong apa keuntungan dari masing-masing jenis bisnis ini? Langsung simak penjelasannya di bawah ini, ya!

Keuntungan Dropship

Jenis bisnis dropship memang dikenal dengan kepraktisannya, karena hanya perlu promosi saja, tidak perlu ribet melakukan pengemasan dan juga pengiriman. Lalu, apa lagi sih keuntungan yang ditawarkan oleh bisnis dropship?

1. Mudah

Bagi calon pebisnis dengan modal kecil atau tidak ada modal sama sekali, bisnis dropship sangat cocok untuk dilakukan, karena dropship tidak memerlukan modal sama sekali.

2. Bisa berkembang lebih cepat

Mengembangkan bisnis dropship bisa jadi hal yang mudah, karena dropship tidak butuh biaya yang besar.

Jadi, dropshipper pun bisa fokus memasarkan dan juga mencari strategi jualan yang bisa meningkatkan keuntungan.

3. Bisa berjualan kapan saja dan dari mana saja

Karena dropshipper tidak perlu melakukan packing serta pengiriman, maka jualannya pun bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.

Dropshipper hanya perlu toko online saja, jadi sangat praktis untuk yang ingin melakukan bisnis sebagai pekerjaan sampingan.

Bagaimana? Cukup menggiurkan bukan? Tapi jangan buru-buru memutuskan pilihan dulu, bisnis reseller juga memiliki keuntungan tersendiri, lho.

Simak keuntungan jadi reseller di bawah ini.

Keuntungan Reseller

Jadi pebisnis reseller memiliki keuntungan yang tidak kalah juga dengan bisnis dropship, lho. Apa saja sih keuntungannya?

1. Bisa menjual barang dengan leluasa

Seorang reseller memiliki keunggulan yang tidak dimiliki dropshipper, yaitu reseller punya stok barang yang mereka jual.

Dengan begitu, jika ada calon pembeli yang menanyakan rincian atau kelengkapan produk, reseller punbisa menjawabnya dengan cepat.

2. Lebih dipercaya oleh calon pembeli

Karena seorang reseller memiliki sendiri barang yang Ia jual, reseller pun bisa dengan mudah memberikan foto dan video asli dari produk tersebut.

Foto asli produk serta videonya bisa membuat pembeli lebih percaya untuk membeli produk tersebut, karena pada beberapa barang, kualitasnya pun bisa langsung terlihat dengan jelas.

3. Keuntungan yang lebih tinggi

Biasanya, reseller mendapatkan potongan yang lebih besar dari supplier karena telah membeli barang yang banyak untuk stok.

Berbeda dengan dropship, reseller juga bisa menentukan sendiri harga jual yang diinginkan, jadi keuntungan pun bisa lebih besar.

Cara Kerja Dropship

1. Mencari supplier barang

Tahap pertama yang bisa dilakukan oleh pebisnis dropship adalah mencari supplier barang atau produk yang akan dijual.

Pada proses ini, dropshipper harus memerhatikan beberapa hal, yaitu:

  • Pihak supplier mau dan bisa melayani order dropship. Hal ini harus dipastikan terlebih dahulu karena tidak semua supplier bisa melayani order dropship.
  • Harga produk yang diberikan oleh supplier murah dan bisa bersaing dengan harga pasar.
  • Supplier menyediakan gambar dan informasi produk dengan lengkap agar bisa menawarkan barang dagangannya kepada calon pembeli.

2. Memasarkan barang

Setelah semua proses pencarian supplier selesai, dropshipper bisa langsung memasarkan barang atau produk yang akan dijual di marketplace ataupun di media sosial.

3. Memproses orderan

Jika sudah ada orderan yang masuk, dropshipper bisa langsung memprosesnya kepada supplier agar produk bisa dikirimkan kepada pembeli.

Dropshipper harus memastikan bahwa data pembeli yang diteruskan pada supplier sudah jelas dan lengkap. Agar tidak terjadi kesalahan saat dilakukan pengiriman oleh pihak supplier.

Cara Kerja Reseller

1. Menentukan produk dan mencari supplier

Pertama-tama, reseller harus menentukan jenis produk apa yang ingin dijual. Jika sudah ditentukan, reseller bisa mencari supplier yang menawarkan barang dengan harga yang murah, namun berkualitas tinggi serta bisa bersaing.

2. Melakukan stok barang

Setelah menemukan supplier yang cocok, reseller akan membeli produk tersebut dalam jumlah yang banyak agar Ia memiliki stok yang cukup untuk dijual.

Untuk itu reseller perlu menyiapkan modal yang cukup besar jika ingin membeli stok dengan jumlah yang banyak.

3. Menentukan harga jual barang

Jika barang sudah distok, reseller bisa langsung menentukan harga jual yang diinginkan.

Pada tahap ini, reseller bisa menentukan pendapatan yang ingin diraih.

Jika harga barang yang ditentukan reseller jauh lebih tinggi dari harga beli dari supplier, maka keuntungan yang didapatkan pun juga besar.

Namun, jika harga jual yang ditentukan reseller tidak jauh dari harga beli, kentungan yang akan diperoleh pun tidak seberapa, tetapi akan lebih berpotensi untuk dilirik oleh calon pembeli.

4. Memasarkan barang

Setelah memiliki supplier, melakukan stok barang, juga menentukan harga jual barang, reseller bisa mulai melakukan proses jualan.

Reseller bisa menjual barang dagangannya melalui media sosial seperti Instagram dan WhatsApp, juga marketplace yang sudah dikenal oleh banyak orang.

5. Memproses orderan

Jika sudah ada pembeli yang tertarik dengan produk yang dijual, reseller pun bisa langsung memproses orderan dari dipesan oleh pembeli.

Karena seuruh proses packing dan pengiriman dilakukan sendiri oleh reseller, reseller harus cermat dalam melakukan pengecekan menyeluruh.

Dengan melakukan packing yang rapi dan aman, maka akan menimbulkan kepercayaan dari pembeli terhadap toko online yang dimiliki oleh reseller.

Demikianlah penjelasan lengkap mengenai bisnis reseller atau dropshipper, serta perbedaan dan cara kerjanya.

Jadi, apakah Anda sudah menentukan akan memilih bisnis yang mana?

Sebagai pemula, Anda bisa mulai dengan menjadi reseller atau dropshipper di Evermos, lho!

Tanpa perlu modal, Anda bisa langsung berjualan produk-produk berkualitas dari brand dan UMKM asli Indonesia.

Jadi, tuggu apa lagi?

Yuk mulai berikhtiar dengan jualan di Evermos. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membantu Anda dalam memulai bisnis Anda.

Untuk membaca artikel mengenai tips dan trik bisnis lainnya, anda bisa mengunjungi Panduan Evermos.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

On Key

Related Posts