Davos Agenda 2021 Serukan Ekonomi yang Lebih Adil

Evermos

Laju ekonomi UKM Indonesia mendapatkan sorotan khusus pada Davos Agenda 2021 World Economic Forum Annual Meeting yang telah diselenggarakan pada 25-29 Januari 2021 lalu. 

Forum penting tahunan ini menghadirkan para tokoh dunia seperti Presiden Tiongkok Xi Jinping, PM India Narendra Modi, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan CEO Softbank Masayoshi Son. Dari Indonesia sendiri diwakili oleh Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi dan Menlu RI Retno Marsudi. Untuk tahun ini ada berapa agenda penting yang dibahas termasuk krisis ekonomi dan sosial yang terjadi karena pandemi virus COVID-19, ekonomi yang lebih adil, melampaui batas geopolitik, teknologi untuk kebaikan dan bagaimana cara menyelamatkan bumi.

Pembahasan tentang banyaknya produk-produk impor masuk ke Indonesia yang menyebabkan para UKM dan produk lokal kalah bersaing dan solusi untuk meningkatkan daya saing produk UKM Indonesia menjadi topik utama dari artikel yang menjadi bagian dari Davos Agenda 2021 yang ditulis oleh Evermos, sebuah perusahaan dari Bandung yang juga merupakan anggota dari Global Innovator World Economic Forum. 

Pak Iyus, seorang produsen jilbab di Bandung, Indonesia dalam puncak bisnisnya pada 2015 sampai 2017 dapat memproduksi 150,000 jilbab per hari. Skala produksinya menurun hingga 80% mengakibatkan adanya penyusutan pemasukan para karyawannya. Hal ini terjadi karena adanya produk impor yang membanjiri pasaran, beberapa diantaranya bahkan ilegal. Berdasarkan keterangan dari di Tanah Abang Jakarta yang merupakan pasar grosir terbesar di Asia Tenggara, kontribusi produk lokal di daerah Tanah Abang juga telah menyusut dari yang aslinya 80% pada awal tahun 2000-an, menjadi 50% sekarang.

Praktek dagang yang seperti ini telah memberikan dampak yang timpang pada masyarakat seperti Pak Iyus. Kenaikan fluktuatif pada penjualan dikaitkan dengan jumlah banyaknya produk impor yang beredar di pasaran. Dia juga mengamati bahwa para produsen asing belajar tentang produk apa yang sedang diminati di Indonesia, dan hanya dalam 6 bulan saja, produk tersebut bisa membanjiri pasar lokal. Dengan tampilan serupa namun dengan harga yang jauh lebih murah.

Untuk dapat bersaing, pak Iyus harus membuat produk baru yang lebih unggul untuk meningkatkan penjualannya. Lekas produksi, dia hanya punya waktu 6 bulan untuk meraup keuntungan. Pak Iyus hanya bisa menerima kenyataan bahwa lawan saing asingnya menggunakan intelijen pemasaran sehingga memberikan unfair advantage yang memperpendek siklus penjualan produknya. Karena waktu yang terbatas untuk memulai maupun berinovasi inilah, ditambah juga tanpa adanya rencana yang strategis, dia jadi enggan untuk mengembangkan bisnisnya.

Keadaan yang seperti ini telah membuat adanya suatu vicious cycle pada UKM-UKM Indonesia. Produk impor yang lebih murah di pasaran membuat UKM menjadi enggan untuk berinvestasi secara jangka menengah dan jangka panjang. Dampaknya adalah turunnya produktivitas dan produksi yang tidak efisien (pertumbuhan menjadi terbatas) dan membuat UKM kalah saing dengan pemain global. Vicious cycle pada tingkat UKM akan menciptakan vicious cycle kecil lain yang berdampak pada karyawan UKMnya. Turunnya produktivitas akan mengurangi pendapatan mereka, yang kemudian berdampak kepada pendidikan anak-anak mereka. Berlanjut ke terciptanya pekerja-pekerja dengan keterampilan kurang mumpuni, yang seharusnya dipekerjakan oleh UKM agar bisa berjalan. 

Keadaan sekarang telah membuat UKM enggan berinvestasi jangka panjang / gambar Evermos

Impor juga memiliki dampak nyata terhadap potensi pendapatan dalam masyarakat. Satu kontainer jilbab impor biasanya memuat 250,000 – 450,000 jilbab. Untuk memproduksi 150,000 jilbab per bulan, Pak Iyus mempekerjakan 3,600 rumah tangga di kotanya. Total pendapatan untuk tiap rumah tangga biasanya sekitar Rp 3 juta, atau sama dengan tiga kali UMR. Penurunan produksi karena adanya barang impor membuat total kerugian atas potensi pendapatan hingga Rp 10 miliar per bulan. Di sisi lain, satu kontainer juga dikenakan pajak oleh pemerintah sekitar Rp 600 juta sampai 1,3 milyar.

Dampak yang memanjang dalam masyarakat inilah menjadi alasan kenapa pentingnya kita harus mulai membeli produk lokal, perputaran uang akan bisa jadi lebih cepat dan dapat digunakan dengan lebih efisien untuk menghidupkan perekonomian lokal.  Arip Tirta, Presiden Evermos mengatakan, ”Jika kita tidak belanja produk lokal, SME akan jauh lebih kalah dalam persaingan dengan rantai nilai global. Setiap produk lokal yang kita beli dapat membantu menghidupkan ekonomi lokal, karena akan makin banyak orang menerima bagian dari yang kita belanjakan. Di sini kita tidak hanya mengalirkan uang ke pemilik produk saja, tapi ke vendor-vendor, karyawan-karyawan dan pihak-pihak relasi lainnya (Ring 2). Uang itu ibarat darah, agar perekonomian terus berjalan, kitalah yang perlu membuatnya terus mengalir. Tentu saja kita perlu meningkatkan kualitas dan pengalaman juga, tapi di samping semua itu, agar produsen lokal dapat mengejar ketinggalan, kita juga perlu memberi mereka kesempatan untuk berjuang.”

Ada banyak yang dipertaruhkan di sini ketika konsumen tidak membeli produk lokal. 97% lapangan pekerjaan di Indonesia diciptakan oleh sektor UKM, di sini UKM juga menyerap mayoritas pekerja dengan keterampilan rendah. UKM juga menyumbang sampai 60% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menunjang kualitas hidup secara massal dan mengentaskan jutaan orang keluar dari kemiskinan. Peluang untuk memperluas dampak dari produksi lokal masih sangat besar. Indonesia memiliki pasar yang besar dan terus berkembang, masih butuh lebih banyak produk secara jumlah dan variasi. Namun sampai sekarang kita belum bisa mewujudkan hal ini menjadi kenyataan.

Evermos

 

Pertanyaan utamanya adalah bagaimana Indonesia dapat memutus vicious cycle yang sudah menjerat banyak masyarakat. Cara kerja siklus ini mirip rantai yang terus tersambung, untuk dapat memutuskannya kita harus fokus pada satu dari bagian rantai, dengan melakukan salah satu atau semua poin berikut:

  1. Go local or go home. Menginspirasi masyarakat untuk membeli produk lokal meskipun ada produk alternatif lain yang lebih murah.
  2. Memikirkan jangka panjang. Mendorong UKM untuk mulai memikirkan dan berinvestasi secara jangka menengah hingga panjang, meskipun dihujani oleh produk global.
  3. Produktivitas sebagai roda pertumbuhan. Fokus pada pelatihan keterampilan dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
  4. Cara terbaik untuk menyerang adalah bertahan. Menciptakan kebijakan-kebijakan dagang yang efektif yang dapat melindungi UKM, dengan pendekatan intelijen pasar yang lebih data-driven.

Jika dapat memutus rantai ini, Indonesia dapat menciptakan virtuous cycle dimana produk lokal akan makin diminati, sehingga UKM mau memikirkan pertumbuhan secara jangka menengah dan panjang. Produktivitas, efisiensi dan keuntungan yang lebih tinggi akan bisa diciptakan dan membuat produk lokal dapat bersaing dengan produk global. Cara lainnya adalah dengan membuat gebrakan besar, memutus siklus ketergantungan kita dengan UKM dan fokus pada peningkatan tenaga kerja terampil, mengubahnya dari pekerja berketerampilan rendah menjadi pekerja berketerampilan tinggi.

Vicious cycle sulit untuk dihentikan, namun bukan berarti tidak mungkin jika semua yang berperan sama-sama bersatu memegang erat dan mulai memutar rodanya, sebagai satu negeri.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest