Mengelola biaya usaha rumahan sering kali jadi tantangan terbesar, terutama jika Sobat baru mulai merintis bisnis. Banyak pelaku usaha rumahan merasa modal cepat habis, bingung menentukan harga jual, atau tanpa sadar mencampur biaya pribadi dan bisnis sehingga keuntungan terlihat “hilang entah ke mana”.
Dalam mengelola usaha rumahan, kendali biaya sama dengan kendali keuntungan. Dengan memahami alur biaya sejak hari pertama, Sobat bisa menjalankan bisnis lebih terarah, hemat, dan tetap menghasilkan meski mulai dari modal kecil, bahkan bisa menjawab pertanyaan modal 50 ribu usaha apa asal perhitungannya benar.
Melalui artikel ini, Evermos ingin mengajak Sobat untuk sama-sama membahas langkah-langkah praktis untuk mengatur modal awal, menghitung harga pokok penjualan (HPP), hingga strategi menekan biaya operasional usaha rumahan.
Dua Pilar Biaya: Modal Awal vs Operasional

1. Modal Awal
Modal awal adalah uang yang Sobat keluarkan sekali di awal sebelum bisnis berjalan. Biaya ini tidak muncul setiap hari, tetapi sangat menentukan kelancaran operasional.
Modal awal ibarat bahan bakar pertama dalam perjalanan bisnis. Tanpa rencana yang jelas, modal mudah habis ke hal-hal yang tidak perlu.
Untuk skala usaha rumahan, modal awal biasanya mencakup:
- Peralatan dasar yang sudah Sobat miliki: kompor, blender, oven kecil, atau HP untuk foto produk.
- Perlengkapan awal seperti kemasan 50 pcs, stiker logo, atau bahan baku untuk batch pertama.
- Legalitas sederhana seperti PIRT (jika jualan makanan).
Menariknya, modal awal tidak harus besar. Banyak usaha bisa dimulai bahkan dengan modal sangat kecil, yaitu Rp50 ribu. Dengan uang tersebut, Sobat bisa memulai usaha seperti jualan minuman es kopi sachet, jajanan rumahan yang modal bahannya murah, reseller tanpa stok barang, jasa titip makanan lokal, atau berjualan jajanan kiloan repack.
2. Biaya Operasional
Sebaliknya, biaya operasional akan terus muncul selama bisnis berlangsung. Biaya ini mencakup bahan baku, gas, listrik, air, ongkos kirim bahan, kemasan, internet, pengiriman produk, hingga upah tenaga kerja langsung (jika ada).
Di tahap ini, banyak usaha rumahan mengalami “kebocoran uang” tanpa disadari. Akan ada momen biaya listrik melonjak karena mesin dinyalakan lebih lama, membeli bahan baku terlalu banyak lalu terbuang, hingga membutuhkan biaya ongkir tambahan yang tidak dihitung dalam harga jual.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Sobat perlu membuat catatan khusus untuk setiap pengeluaran dan pemasukan. Dengan begitu, aliran keluar-masuk uang bisa terlacak dengan baik.
Analisis Biaya Operasional Inti

1. Biaya Tetap
Biaya tetap atau fixed cost adalah biaya bulanan yang tidak berubah meskipun Sobat memproduksi 10 atau 100 unit. Biaya ini meliputi listrik dasar, internet, sewa ruang (jika ada ruangan khusus produksi), biaya aplikasi tools (Canva Pro, akuntansi, dll.) Biaya tetap ini tidak terasa besar di awal, tetapi wajib masuk hitungan supaya harga jual tidak salah perhitungan.
2. Biaya Variabel
Beda cerita dengan biaya variabel. Cost akan berubah sesuai jumlah pesanan/produksi yang meliputi bahan baku per produk, cup, plastik, stiker, gas untuk produksi makanan, dan ongkos kurir bahan baku.
Biaya variabel merupakan inti dari perhitungan HPP. Jika bagian ini tidak dihitung detail, penentuan harga jual berpotensi sering keliru dan akhirnya merugikan bisnis.
Cara Menghitung HPP dan Harga Jual agar Tidak Rugi

1. Rumus HPP (Harga Pokok Penjualan)
HPP = (Total Biaya Variabel + Tenaga Kerja Langsung) ÷ Jumlah Unit Produksi
Contoh: Sobat membuat 40 box brownies mini.
Total bahan baku + kemasan = Rp140.000
Upah tenaga kerja langsung (jika dihitung) = Rp30.000
HPP = (140.000 + 30.000) ÷ 40 = Rp4.250 per box
2. Rumus Harga Jual
Harga Jual = HPP + Margin 20–30% + Biaya Tak Terduga 1–5%
Dengan HPP Rp4.250:
Margin 30%: Rp1.275
Biaya tak terduga: Rp200
Harga jual ideal = Rp5.725 (dibulatkan Rp6.000).
Rumus ini bisa Sobat gunakan untuk menjaga usaha tetap punya keuntungan meski terjadi pembengkakan biaya kecil.
Strategi Cerdas Menekan Biaya Usaha Rumahan

1. Hemat Listrik dan Air dengan Pola Produksi yang Efisien
Usaha rumahan sering boros listrik tanpa disadari. Misalnya mixer menyala lama, oven digunakan tanpa batch besar, atau produksi dilakukan dalam beberapa sesi kecil sehingga energi terpakai berkali-kali.
Solusi terbaik untuk permasalahan ini adalah menerapkan sistem produksi sekali banyak (batching), menggunakan alat hemat energi, atau menggunakan cahaya alami untuk mengurangi penggunaan lampu. Menekan biaya listrik bisa cukup berdampak kepada biaya produksi.
2. Negosiasi dan Memilih Supplier yang Tepat
Supplier yang tepat dapat menghemat biaya besar. Sobat bisa membandingkan harga di 2–3 toko atau marketplace terlebih dahulu, lalu membeli bahan dalam jumlah yang pas dengan harga terbaik.
Strategi jitu lainnya adalah dengan mengambil promo gratis ongkir. Pilihlah supplier dengan domisili terdekat dari kediaman Sobat agar ongkirnya lebih kecil meski kuantitas pembeliannya cukup besar.
3. Maksimalkan Aset Pribadi di Rumah
Usaha rumahan masih digemari banyak orang karena tidak perlu sewa tempat lagi. Memang skala produksinya tidak bisa langsung besar. Akan tetapi, faktor ini juga bisa mendatangkan keuntungan yang lebih maksimal karena jumlah stok bisa disesuaikan dengan jumlah permintaan.
Faktor lain yang juga bisa menekan biaya produksi adalah Sobat bisa aset pribadi apa yang sudah ada di rumah, seperti dapur, motor pribadi, HP untuk foto produk, hingga meja makan untuk area packing. Semakin sedikit biaya tambahan, semakin besar pula margin keuntungannya.
4. Pemasaran Organik Lewat Media Sosial
Karena perkembangan teknologi, media promosi usaha rumahan sekarang bisa dimulai dengan modal nol Rupiah. Banyak yang bisa sukses hanya dengan konsisten posting di WhatsApp Story, grup Facebook, hingga video TikTok. Pastikan bahan promosinya menarik agar lebih banyak orang yang tertarik untuk membeli.
5. Gunakan Spreadsheet atau Aplikasi Keuangan
Pencatatan keuangan adalah kunci agar bisnis bisa bertahan lama. Di internet, sekarang sudah banyak template Spreadsheet hingga aplikasi keuangan gratis untuk memantau catatan keluar-masuk uang dalam bisnis Sobat.
Dengan cara ini, Sobat bisa mencatat pemasukan dan pengeluaran, memisahkan uang pribadi dan uang bisnis, melihat keuntungan bersih, dan mengontrol arus kas. Bagaimanapun, tujuan Sobat melakukan usaha rumahan adalah mencari keuntungan, bukan?
Kesimpulan
Mengetahui cara menghitung biaya usaha rumahan merupakan pengetahuan yang sangat berguna. Jika suatu saat skala usaha berkembang, Sobat bisa lebih mudah menyesuaikan diri dengan penghitungan modal awal, biaya operasional, HPP, hingga harga jual yang sepadan.
Namun, jika Sobat adalah pebisnis pemula, menjadi reseller Evermos merupakan cara termudah untuk memahami dunia bisnis dari nol. Sobat tidak perlu repot memikirkan modal bahan baku, biaya operasional, HPP, hingga cara menyimpan stok.
Mengapa demikian? Di aplikasi Evermos, Sobat bisa mendaftar secara gratis, memilih barang dari supplier terpercaya untuk dijual dengan nol modal, lalu mempromosikannya. Jika berhasil mendapatkan pelanggan, Sobat akan mendapatkan komisi tambahan yang sudah dicantumkan sejak awal dalam deskripsi masing-masing produk.
Bersama Evermos, usaha rumahan bisa dilakukan dengan lebih mudah oleh para pemula. Yuk, daftar jadi reseller sekarang!
